Dulu dan Sekarang

“Maaf sudah merepotkan selama ini,” ucapnya lirih. Setelah mengucapkannya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
**
                Angin berhembus sepoi-sepoi. Matahari sepertinya sedang bersahabat, panasnya tak begitu menyengat bumi hari ini. Mungkin sejuknya matahari sama seperti hati Steve.
“Mau kemana, Steve?”
“Jogging sebentar, Ma.”

“Jangan kelamaan, sebentar lagi kan kamu kuliah.”

“Siap, Bu Bos,” jawab Steve sambil memberi hormat dan berlalu dari mamanya.

Walaupun tidak tinggal di desa atau pegunungan, udara di kota ini masih bisa dibilang segar. Masih banyak rerimbunan pohon cemara. Tidak ada pemandangan gersang. Hampir setiap sudut kota ini begitu asri.

Sejak pindah ke kota ini Steve berubah total. Dia yang dulu bukan tipe anak rumahan, mendadak lebih senang menghabiskan waktunya bersama keluarga. Bisa dihitung berapa kali dalam setahun Steve pergi ke diskotik. Untuk yang satu itu masih tidak bisa dirubah sampai sekarang.

Setelah melakukan pemanasan sebentar Steve mulai berlari dengan santai. Sambil berlari Steve menikmati udara segar. Berhenti sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam, merasakan udara di paru-parunya berganti, kemudian menghembuskannya perlahan. Berulang kali Steve melakukan hal itu, setelah dirasa cukup ia melanjutkan lari nya.

Berputar-putar di kompleks, kemudian menuju taman, belok ke sport area, pulang ke rumah. Itulah rute yang dilewati Steve untuk kegiatan joggingnya.

**

“Steve mana, Ma?” tanya seorang lelaki yang berusia akhir 40-an.

“Lagi jogging, Pa. Palingan sebentar lagi pulang,” jawab Mama sambil menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Papa hanya tersenyum.

**

Steve sedang mengerjakan tugas di kantin bersama teman-temannya ketika geng Ronal lewat.

“Eh, Ronal Kwek-Kwek lewat,” bisik Sony. Steve dan yang lain hanya tersenyum.

“Eh, ada Stevi cantik,” celetuk Ronal. Steve masih mempertahankan senyumnya. Ronal menunduk, mendekatkan wajahnya ke Steve, “Masih jadi bencong lo? Ternyata sama aja dengan kakak lo, sama-sama banci. Sama-sama nggak punya nyali. Sama-sama pengecut. Sama aja dengan kakak lo yang L O S E R itu!”

Tanpa ba-bi-bu Steve berdiri dan menghajar Ronal. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Steve mencengkram kerah Polo Ronal. “Sekali lagi Anda menyinggung keluarga saya, saya nggak akan segan-segan buat  mecahin kepala Anda,” ucap Steve dengan penekanan.

BUK! DUUAKKKKK!

Steve berlalu setelah mengukir darah di wajah Ronal.

**

Dengan suasana hati seperti neraka Steve berjalan tanpa arah. Tak peduli hujan deras membasahi tubuhnya. Masih ada sisa darah di cincin dan jari-jari tangannya. Rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam menembus kabut. Ada guratan merah di matanya.

Langit semakin gelap. Tangis awan bertambah deras dan keras.

Zeus marah. Petir membelah langit. Kilat mendahului petir. Dewi Antu membekukan udara.

**

2 tahun lalu.

                “Steve, tolong temani kakakmu. Mama dan Papa mau pergi beli obat dulu.”

                “Steve, tolong temani kakakmu, dia mau pergi.”

                “Steve, tolong ambilkan ini/itu untuk kakakmu.”

                “Steve, jaga kakakmu. Jangan sampai dia kecapekan.”

                “Kalian itu kakak-adik, harus saling menjaga. Apalagi kondisi kakakmu sekarang tidak begitu baik. Hiburlah dia. Temani dia. Sekarang giliranmu yang menjaganya, sejak kecil ia sudah menjaga dan menemanimu.”

                Sepanjang tahun hanya kalimat itu-itu saja yang Steve dengar. Bahkan ia sudah muak dengan semua itu. Steve yang tidak sabaran. Yang emosinya masih labil, harus mengalah dengan sang kakak?

                Steve cukup egois untuk bisa meninggalkan kakaknya di rumah sedangkan dia bersenang-senang di tempat lain tanpa memikirkan keluarganya sedikit pun.

                “Stev, tolong ambilkan isolasi, kabel ini putus,” pinta kakaknya yang sibuk memegang kabel.

                “Ambil sendiri lah, aku malas.”

                Seringkali hanya jawaban seperti itu yang diberikan Steve.

                Sampai waktu itu tiba. Sampai penyesalan itu tiba.

                Steve mendengar keributan di kamar kakaknya. Seperti bunyi barang yang pecah dan lain-lain. Tapi Steve tidak peduli, toh kakaknya tidak memanggil. Kemudian Steve mendengar pintu rumah dibuka dan ditutup kembali. Siapa yang keluar malam-malam begini?Diluar sedang hujan deras.  Mama papa sedang menemani adik belajar.

                Karena penasaran, Steve beranjak dari sofa.

                Cklek. Pintu dibuka.

                Steve disambut pemandangan yang membuatnya terpaku.

                “KAK!” tanpa peduli akan derasnya hujan Steve segera berlari menghampiri kakaknya yang sedang terbaring di dekat mobil. Wajahnya pucat. Badannya dingin sekali.

                “Kau kenapa, Kak? Sadar,”melihat kakaknya terpejam Steve menepuk-nepuk pipi kakaknya. Tidak ada reaksi. Steve mencoba mengangkat tubuh kakaknya, “Ayo bangun, kita ma….”

                “Obat, Steve….di…dasbor..mobil……”

                Steve segera berlari ke mobil untuk mengambil obat yang dimaksud. Tak lama Steve kembali lagi dengan mengantongi obat kakaknya. “Ayo, kita masuk, aku udah ambil obatnya,” Steve hendak mengangkat tubuh kakaknya lagi, tetapi kakaknya tetap berbaring.

                Tetes-tetes air hujan mengalir dari pipi tirus kakaknya. “Steve..maaf…”

                “maaf sudah…..merepotkanmu……”

                “STEVEN!!!!” Mama papa dan adik berhamburan menghampiri Steve dan kakak kembarnya.

                “maaf…..menyusahkan kalian……”

                “Nggak, Kak. Kau mesti bangun, kau akan sembuh!” wajah Steve basah bukan hanya oleh hujan, tapi juga air matanya yang mengalir sederas hujan.

                Steve merasakan tangan dalam genggamannya semakin melemah. Mata Steven menutup pelan tapi pasti. “Nggak. Ini nggak boleh terjadi. Bangun, Steven!”, Steve menggoncang-goncangkan tubuh Steven.

                Tubuh dalam pelukannya membiru. Sudah terlambat.

                “STEVEEEEENNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

                JTAAAARRRRRRRRRRRRRR!!!!! Petir menggelegar dengan angkuhnya.

Seolah alam turut berduka.

                Pemakaman siang itu berlangsung khusyuk. Saat satu persatu meninggalkan pemakaman, Steve masih terpaku di tempatnya berdiri daritadi. Papa menghampiri Steve dan menepuk bahunya, ” Sudahlah. Kakakmu tidak ingin melihat kita bersedih. Mungkin ini yang terbaik buat kita semua. Kamu sedih. Adik sedih. Papa mama apalagi. Tapi kita harus menerima semua ini dengan lapang dada. Oh, ya, kemarin Papa nemuin surat ini waktu beresin kamar Steven,” papa mengulurkan surat beramplop putih itu.

To : Steve Li

 

Hei, Steve, masih ingat saat-saat kita main basket di halaman belakang dan jogging hujan-hujanan? Semoga saja kau masih ingat. Aku ingin sekali mengulang waktu-waktu itu. Saat kita bisa melakukan hal-hal gila bersama-sama. Saat kita menghajar preman-preman sekolah yang mengganggu adik.

Sekarang berbeda ya, Steve? Kini, bukannya kita semakin kompak dan bersenang-senang, aku malah menyusahkan keluarga kita. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya punya tubuh yang fit. Tidak takut kecapekan. Bahkan melakukan banyak kegiatan.

Kau tau, Steve, pertama kali mengetahui aku positif kanker otak, aku putus asa. Rasanya sia-sia saja hidup ku selama 21tahun ini. Tapi kau lihat sendiri kan, mama papa nggak henti-hentinya berusaha menyembuhkan aku. Mereka seakan tidak pernah putus asa.

Steve, aku rasa waktu ku tak banyak lagi. Harapan mama papa sekarang tinggal kau dan adik kita, Vina.

Maaf, Steve, aku selalu merepotkanmu. Maaf, kakakmu seorang penyakitan yang bisanya hanya menyusahkan orang lain. Aku minta maaf tidak bisa menjaga kalian lagi.

Jika saat ku tiba, kalian harus tetap kompak. Jaga keluarga kita agar tetap menjadi keluarga yang harmonis. Berjanjilah kau tidak akan mengecewakanku.

Terimakasih, Steve, sudah menjadi adik kembarku yang menyenangkan. Terimakasih sudah menemaniku sejak kita belum lahir ke dunia ini.

Just be yourself.

 

Steven Li

Steven bukan pengecut. Apalagi loser. Dia orang yang tenang, yang tidak suka mencari keributan. Yang suka mengisi waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan positif. Dia yang mengajariku saat belajar, yang mengajariku musik, yang mengajariku olahraga, dia yang mengajariku untuk bisa membedakan mana yang baik dan tidak, yang melindungi aku dari kecil. Dan yang terpenting, dia kakak kembarku, yang mengajariku apa itu keluarga.

 

The End

 

“Jika penyesalan datang lebih dulu, tidak akan ada satu pun orang yang melakukan kesalahan.”
Bella Wijaya Phan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s