Rasa Cintaku Tak Terbatas Aksara (My Love Is More Than The Words Can Say)

Indonesian Version:
Story By : Ramadhan Aditya (@rigeladitya)

                “Hei, Gadis kecil, kemari,” panggil Aki yang sedang menikmati teh sorenya di ruang tamu. Aku menyahut, lalu menghampirinya walau detik milikku sebagian terbagi dan pergi.
“Ada apa, Ki?”
“Aki mau minta tolong sama kamu. Mau, kan?”
“Tapi, Ki, aku sebentar lagi mau…”
                “Hei, Gadis kecil, Aki cuma minta tolong sedikit saja. Mau, kan?” Belum usai aku berkata, sudah dipenggal kalimatku oleh permohonan Aki. Kata terakhirku menyangkut di kerongkongan.
Dia tak memaksa. Tapi sejak kecil, aku selalu diajari untuk tidak menolak permintaan orang lain, terlebih akiku sendiri. Sedikit aku menyimpan dongkol di bawah leher. Bagaimana tidak? Aku sudah memiliki janji dengan Wira. Malam ini, dia akan mengajakku ke suatu bukit, lalu mengenalkanku satu per satu pada para ksatria malam.
“Aki minta tolong, tuliskan sesuatu untuk Emak.”
“Tapi, Ki, Emak kan…”
“Hush, sudah. Kamu tuliskan saja ya, Gadis kecil. Aki yang diktekan. Kalau Aki bisa menulis, Aki juga tak akan menyuruhmu.”
Lagi-lagi kalimatku dipotong. Kata-kata itu terbendung di kerongkongan bersama kesal di leher yang semakin membesar. Aku hanya bisa membatin. Namun, Aki tetap mempertahankan senyumnya.
Aki sudah mempersiapkan kertas dan pena. Dia berikan keduanya padaku. Lalu, dia mulai mendikte, sementara aku mulai menuliskannya. Awalnya, kesal masih melekat di leherku, menjalar menelusuri kulit menuju tangan kananku, kemudian hinggap di batang pena, meresap ditelan tinta, namun hilang saat kutuliskan pada sebuah kata. Kata yang Aki ucapkan untuk Emak, panggilan untuk Nenek. Aku merasa tak ada makna lain selain cinta yang menempel pada tinta yang kutuliskan meski aku tahu persis aku menuliskannya dengan hati yang sedikit sakit. Aki, walaupun dia buta aksara, tapi kata-katanya mampu mengumpulkan segumpal air di pelupuk mataku. Satu kata lagi yang terucap dari mulutnya, mungkin takkan sanggup membendung tangisku yang pecah.
“Sudah? Tolong masukkan ke amplop ini.” Aki memberikanku sehelai amplop putih polos, memintaku memasukkan suratnya ke dalam amplop itu.
“Gadis kecil, tunggu.” Aki hobi memotong segala sesuatu rupanya. Tak hanya kalimat, tapi hal yang kulakukan pun tak segan dia penggal. Semoga leherku tak ikut dipenggal.
Dia mengambil dompet dari saku belakang celananya, lalu membukanya. Asyik, dapat duit! Tak sia-sia ternyata aku menulis sebuah surat seperti ini.
“Kamu masukkan bunga ini bersama surat itu ke dalam amplop.”
Pupus harapanku. Ternyata dia mengambil beberapa pucuk bunga edelweiss dari dompetnya. Bunga berwarna hijau kelabu itu sudah gepeng.
“Tak apa walau sedikit gepeng. Wanginya masih sama seperti saat pertama kali aku mendapatkannya.” Katanya sambil tersenyum.
Aku manut, memasukkan surat yang sudah kutulis dan beberapa pucuk bunga edelweiss yang sudah gepeng ke dalam amplop. Lalu, kuambil lem plastik untuk menutup rapat-rapat amplop tersebut. Akhirnya selesai. Tapi…
“Tuliskan nama dan alamat rumah nenekmu, juga nama dan alamat Aki sebagai pengirimnya. Lalu, tempelkan perangko ini.”
“Tapi, Ki, Emak kan…”
“Sudah, ikuti saja perintah Aki. Ayo, cepat tempel perangkonya,” kata Aki seraya memberiku perangko enam ribu bergambar bunga Edelweiss.
Lagi-lagi, aku manut. Tapi, kali ini tanpa kesal, dan sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.
“Sudah. Sekarang aku kirim surat ini ke Emak, kan?” kataku menebak perintah Aki selanjutnya. Pria tua itu pun mengangguk sambil terus melengkungkan senyum di bibirnya.
“Terima kasih, Gadis kecil.” Sifatnya tak pernah berubah dari dulu, begitu juga dengan panggilannya untukku walau telah duapuluh tahun berlalu.
Aku beranjak ke teras rumah, menghampiri Nenek yang tengah menikmati teh sorenya bersama senyum senja dan belai sepoi angin. Nenek heran saat kukatakan dia dikirimi surat dari Aki. Keriput semakin terlihat di wajahnya ketika dia mengerutkan dahi. Namun, pelik yang dirasanya diabaikan dan diubahnya jadi senyuman. Dia meraih surat itu. Melihat tulisanku yang terukir di sana.
Kepada Humaira-ku
Jl. Anggrek Bulan 11, teras rumah

Nenek melihat sebentar perangko bergambar bunga edelweis itu dan mengusapnya perlahan, lalu membalikkan amplop tersebut untuk melihat alamat Aki yang tertulis.
Dari lelakimu
Jl. Anggrek Bulan 11, ruang tamu

Kini, Nenek tertawa melihat tulisanku yang satu itu. Dia membuka amplop dengan merobek bagian atasnya, lalu dia keluarkan surat di dalamnya. Nenek terkejut ketika mendapati bunga edelweis gepeng di dalamnya. Dia mengambil bunga itu perlahan, lalu mencium harumnya.
“Wanginya masih sama seperti 48 tahun yang lalu. Walau bentuknya sudah tak seindah dulu,” Nenek tersenyum lalu memberikan surat itu kepadaku.
“Tolong, Zahra. Aku tak akan memintamu andai aku bisa membacanya sendiri.”
Aku tersenyum memandang wajahnya yang penuh kerutan. Tapi, tidak dengan cintanya yang masih seperti wanita usia dua puluhan. Aku sama sekali tak merasakan pedih pada senyumannya.
Kuraih kertas yang beberapa menit lalu baru saja kulipat.
Aku mulai membacakannya.

                Teruntuk bidadariku di dunia dan di surga,
Humaira,
Aku tahu kau tak akan geleng-geleng kepala menerima perlakuan dariku seperti ini. Aku tahu kau pasti akan tersenyum karena cuma kamu wanita yang menghargai tiap cinta yang kuberikan karena kau adalah sebaik-baik perhiasan di dunia yang aku milikki.
Humaira, meski namamu adalah panggilan sayang Muhammad kepada Aisyah, aku akan tetap mencintaimu seperti Muhammad mencintai Khadijah. Juga bila waktuku telah sampai lebih dulu, aku ingin mati di atas pangkuanmu. Kau peluk aku sampai ruh benar-benar tercabut dari tubuhku seperti wafatnya Muhammad di pangkuan Aisyah.
Kumohon, jangan terlalu lama kau tinggalkan aku sendiri. Kau tahu, aku selalu rapuh tanpamu. Beri tanda bila waktumu hampir sampai agar aku bisa menjemputmu bersama-sama malaikat.
Kau tahu, hampir 50 tahun aku mencintaimu dan 48 tahun aku hidup bersamamu. Jadi, wajar aku berpesan seperti itu. Kau juga tahu, aku tak ingin terlalu lama tua seperti kamu yang dulu tak menginginkan tua.
48 bukan angka yang sedikit, Humaira. Bukan seperti waktu aku menikmati es krim pemberianmu dulu. Bukan pula seperti aku menikmati secangkir teh buatanmu yang habis sekali senja. Tapi, waktu yang menghadirkan keriput di wajah kita dan kaki kita begitu lemah tak berdaya. Tapi, seperti yang kau tahu,         Humaira, cintaku padamu tak akan pernah tua. Seperti halnya cintamu padaku yang selalu muda.
Kau lihat bunga edelweis yang kau pegang saat ini? Kau ingat? Itu bunga yang kau berikan padaku saat umur kita masih duapuluh tahun. Saat kakimu masih tangguh menanjak Gunung Semeru. Saat kau permalukan aku yang belum pernah sekali pun mendaki gunung sedang kau sudah tak terhitung banyaknya menaklukkannya. Bunga itu selalu tersimpan dalam dompetku sejak 48 tahun yang lalu. Tanda cintamu padaku.
Karena cintamu padaku, cintaku padamu, bunga itu tetap abadi. Edelweis yang meniru persis cinta kita, Sayang.
Batariku, aku memang tidak bisa menulis seperti kamu yang tidak bisa membaca. Aku pun tak belajar menulis puisi seperti kamu juga tak pernah belajar membaca puisi. Tapi, kau tahu, Alquran telah mengajari kita banyak hal, termasuk membuat puisi tanpa pernah sekali pun belajar menulis. Seperti kau yang tak pandai bernanyi tapi suaramu seindah nyanyian bidadari saat mengaji. Karena Dia-lah pujangga maha indah, yang telah menulis puisi paling suci, di jagad raya ini.
Selamat ulang tahun.
NB. Aku tahu kau lupa hari ulang tahunmu dan hanya mengingat hari ulang tahunku dan ulang tahun pernikahan kita. Seperti aku yang melupakan hari ulang tahunku dan hanya ingat hari ulang tahunmu dan ulang tahun pernikahan kita.


Aku mencintaimu,
Lelakimu

                Tak bisa kutahan lagi. Air mata ini sudah meleleh sedari tadi. Aku tak bisa membendungnya. Sekilas kulihat wajah Nenek. Hanya tersisa bekas air mata yang beranak sungai di atas pipi keriputnya. Dia tak melihatku, melainkan senja yang hampir habis. Di ufuk barat, matahari yang tak berdaya pelan-pelan mulai tenggelam, mengantar setiap kenangan ke tempat istimewanya di semburat hati nurani manusia.

English Version :

“Hey, little girl, come here,” called Aki who was enjoying his afternoon tea in the living room. I answered then approached him although my seconds was split and gone.
“What is it, Ki?”
“I want to ask for your help. You don’t mind, don’t you?”
“But, Ki, I have to…”
“Hey, little girl, I just want to ask a little thing.” Before I finished my sentence, Aki already cut it. My last words were stuck in my throat.
He wasn’t forcing. But since I was a kid, I was always taught not to refuse anybody’s request, especially my own Aki. I felt a little cranky under my neck. Why not? I already had a promise with Wira. Tonight he would bring me to a hill and then introduce me to each night warriors.
“I want you to write something for Emak.”
“But Ki, Emak has already…”
“Hush. Just write it okay, little girl. I will dictate it for you. If I could write, I wouldn’t ask you either.”
Again my sentences were cut. Those words were stuck in my throat as well as the annoyance which was getting bigger. I could only think. But Aki kept his smile.
Aki had prepared a piece of paper and a pen. He gave both to me. Then he started to dictate, while I wrote it down. At first, annoyance still stuck on my neck, spread through my skin to my right hand, then settled on the pen, seeped into the ink, but vanished when I wrote it into a word. The word Aki stated for Emak, another call for grandmother. I felt there was no other meaning than love which was attached on the ink I was writing although I knew very well that I was writing with an aching heart. Aki, even though that he was illiterate, but his words were able to gather a plume of water on my eyelids. One more word from his mouth, probably wouldn’t be able to stop my tears.
“Done? Please put it into this envelope.” Aki gave me a plain white envelope, asking me to put the letter into it.
“Little girl, wait.” Aki liked to cut everything apparently. Not only sentences but also the things I did. Hopefully he wouldn’t cut my throat too.
He took out a wallet from his pants’ back pocket and opened it. Great, I’ll get money! It was not a vain for me to write this letter anyway.
“Put this flower with that letter into the envelope too.”
My hope was dashed. It turned out he was taking a few buds of Edelweiss from his wallet. The grayish green flower had flattened.
“It’s okay if they’re flattened. They still smell the same since the first time I get them,” said he, smiling.
I did as accordance. I put in the letter which I’d written and a few flattened buds of edelweiss flower into the envelope. Then I took a bit of tape to seal the envelope perfectly. At last, it’s done. But…
“Write down the name and address of your grandmother and also my name and address as the sender. Then stick this stamp onto it.”
“But, Ki, Emak has already…”
“Just follow my orders. Hurry, stick the stamp,” he said while giving me a six thousand rupiah stamp with a picture of Edelweiss.
Again, I did as accordance. But this time I was annoyed and it seemed that I knew what to do next.
“Done. Now I should just send this letter to Emak right?” I said, guessing Aki’s next order. The old man nodded and smiled.
“Thank you, little girl.” His attitude never changed since long time ago. So was how he always called me, although twenty years had passed.
I got to the terrace, approaching my grandmother who was enjoying her afternoon tea with a smile and a stroke of breeze. Grandma looked bewildered when I said he was sent a letter by Aki. Wrinkles were clearly seen from her face when she frowned. She took the letter and was looking at my handwriting.

               To my Humaira,
Anggrek Bulan 11 Street, House Terrace

Grandma looked a while at the stamp with the Edelweiss picture and rubbed it slowly, then turned the envelope to see Aki’s address written.

                From your guy
Anggrek Bulan 11 Street, Living Room

Now Grandma laughed looking at that handwriting of mine. She then tore open the upper side of the envelope and she took out the letter. Grandma was surprised to see the flattened Edelweiss flower inside. She took it slowly and smelled it.
“It still smells the same as 48 years ago. Although the shape is not as beautiful as before.” Grandma smiled and gave the letter to me.
“Please, Zahra. I wouldn’t have asked you if I could read it myself.”
I smiled looking at her wrinkled face. But not with the love of a 20 years old woman. I didn’t sense any sadness in her smile.
I took the paper which I just folded few minutes ago.
I started reading it.

                For my angel on Earth and in Heaven,
Humaira,
I know will never shake your head receiving this kind of attitude of mine. I know you will smile because you are the only woman who accepts the love I give you because you are as good as the jewelry in the world I have.
Humaira, though your name is a love call by Muhammad to Aisyah, I will love you like Muhammad to Khadijah. Also if my time had come before you, I would like to die on your lap. You would hug me until my spirit was really pulled out of me just like when Muhammad died on Aisyah’s lap.
Please, don’t leave me for too long. You know I’m always fragile without you. Give me a sign if your time almost comes so that I could pick you up with the angels.
You know, it’s almost 50 years I love you and 48 years we live together. So it’s normal if I instruct this way. You might also know, I don’t want to be old for too long just like you didn’t want to be old.
48 is not a small number, Humaira. It’s not like when I was enjoying the ice cream you gave me once. It’s also not like when I was enjoying a cup of tea you made for me. But it was the time which has presented the wrinkles on our faces and our legs are so strengthless. But as you know, Humaira, my love is never getting old. As well as my love for you which is always young.
Do you see the Edelweiss you’re holding right now? Do you remember? That’s the flower you gave me when we were still twenty. When your legs were still strong enough to climb the Semeru Mountain. When you embarrassed me who had never climbed the mountain for even once, while you yourself had conquered it for uncountable times. That flower had always been  remaining in my wallet since 48 years ago. Your sign of love for me.
Because of your love for me, my love for you, the flower is eternal. Edelweiss which resembles our love, honey.
My goddess, I can not write as well as you can not read. I too didn’t learn how to write a poem as well as you didn’t learn how to read one. But you know, Alquran has taught us a lot of things including how to write a poem without learning how to write. As well as you who never know how to sing but your voice is as beautiful as the angel who is reciting. Because He is the greatest poet, who has written the purest poem in this universe.
Happy birthday.
PS: I know you forget your birthday and only remember mine and our anniversary. As well as I always forget my birthday and remember yours and our anniversary.

 I love you,
Your guy

             I couldn’t hold it anymore. My tears had flown out. I couldn’t stop them. I glanced at Grandma’s face. There were only the remnants of tears which flowed on her wrinkled face. She didn’t see me, but was looking at the almost up nightfall. At the western horizon, the powerless sun slowly sank, leading each and every memories the special place of every human’s heart.

Cerpen ini diterbitkan di www.dindingkreatif.wordpress.com dan dibuat versi Bahasa Inggrisnya atas seijin penulis.
This short story was published in www.dindingkreatif.wordpress.com and made the English language version with the permission of the author.

4 thoughts on “Rasa Cintaku Tak Terbatas Aksara (My Love Is More Than The Words Can Say)

  1. cerita yang benar-benar indah, apalagi saya saat membaca ini saya memang seorang kakek yang jauh dari nenek, jadi aku sangat senang membacanya.
    salam kenal dari oldman Bintang Rina

    • Halo, Opa (boleh manggil Opa nggak ya? hehehe…)… Salam kenal juga dari Kikis & Bella. Itu dia, karena menurut saya ceritanya bagus dan menginspirasi makanya saya minta bantuan seorang sahabat untuk meminta ijin posting nya, Opa.. Cerita yang begini nih yang mesti disharing buat teman-teman disini..
      Terima kasih sudah mampir di DK, ya, Opa, semoga sehat selalu..😀

      Regards,
      Bella Wijaya

      • halo Kikis dan Bella, Opa senang dengan sapaan kalian. internet ini opa buka ketika opa terbangun tengah malam dan membaca sambutan mesra kalian, ah bahagia sekali dengan panggilan opa itu. untuk mengisi hari-hari yang panjang tanpa banyak kesibukan opa banyak menulis di internet. Dan ternyata tanggapannya menggembirakan dan membanggakan, termasuk dari kalian. opa harap kita akan sering mengunjungi.semoga kalian juga selalu sehat-sehat semua. salam mesra dari opa. oldman Bintang Rina

  2. Sip, Opa..😉 semalem udah sempat liat blog Opa, tp belum sempat baca.
    Terima kasih, Opa..😀
    Semoga betah di DK, ditunggu kritik dan sarannya😀

    Bella Wijaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s