7 Manusia Berhati Mulia versi On The Spot

1. Karl Rabeder – Milyuner Dermawan
Seorang miliuner Austria, Karl Rabeder, memberikan setiap sen kekayaanya senilai total 3 juta poundsterling atau setara Rp 50 miliar setelah menyadari kekayaannya tidak membuat dirinya bahagia.

Karl Rabeder
Rabeder (47), pengusaha sukses dari Telfs, kini tengah menjual vila mewah dengan danaunya serta pemandangan pengunungan Alps yang spektakuler senilai Rp 21 miliar. Dia juga menjual rumah pertanian dari batu serta belasan hektar lahan di sekitaranya di Provence dengan nilai Rp 10 miliar, serta enam koleksi pesawat terbang layang senilai Rp 6 miliar dan sebuah mobil audi mewah senilai Rp 700 juta. Selain itu, dia telah menjual perabot interior dan aksesori bisnis, dari vas hingga bunga artifisial.

“Rencana saya adalah untuk tidak menyisakan apa pun. Tidak memiliki apa pun,” katanya kepada The Daily Telegraph pada awal pekan ini. “Uang itu kontraproduktif, uang menghalangi datangnya kebahagiaan.”

Ia akan keluar dari rumah mewahnya itu, lalu menyepi ke sebuah pondok kayu kecil yang ciamik di pengunungan tersebut atau ke sebuah rumah sederhana di Innsbruck. Semua hasil penjualan hartanya akan menjadi modal untuk lembaga amal yang dia dirikan di Amerika Tengah dan Latin, tetapi ia tidak akan mengambil gaji dari situ.

“Lama saya meyakini bahwa dengan banyak kekayaan dan kemewahan berarti secara otomatis akan lebih membahagiakan,” katanya. “Saya berasal dari kerluarga yang sangat miskin, yang aturanya adalah bekerja lebih keras untuk mencapai hal-hal material yang lebih banyak dan saya melakukan hal itu bertahun-tahun,” kata Rabeder.
Namun, dia kemudian merasakan sesuatu yang lain, perasaan yang justru bertentangan dengan keyakinan awalnya. “Semakin sering saya mendengar kata-kata, ‘Hentikan apa yang Anda lakukan sekarang, segala kemewahan dan konsumerisme ini, dan mulailah hidupmu yang sesungguhnya,'” katanya. “Saya merasa, saya bekerja laksana budak untuk hal-hal yang tidak saya ingin atau butuh. Saya kira bahwa ada banyak orang lain yang melakukan hal yang sama.”

Karl Rabeder1
Bagaimanapun, selama bertahun-tahun dia tidak cukup berani untuk menghentikan semua hal yang memerangkap kenyamanan eksistensinya. Akhirnya titik balik itu terjadi saat dia berada dalam liburan selama tiga minggu bersama istrinya di Kepulauan Hawaii.

“Itu merupakan guncangan terbesar dalam hidup saya ketika saya menyadari betapa mengerikan dan tanpa perasaannya kehidupan bintang lima itu,” katanya. “Dalam tiga minggu tersebut, kami menghabiskan semua uang yang mungkin dapat Anda belanjakan. Namun, dalam keseluruhan waktu itu, kami merasa bahwa kami tidak menemukan seorang pribadi yang nyata, semuanya aktor. Para staf memainkan peran untuk ramah dan para tamu memainkan peran sebagai orang penting dan tidak seorang pun nyata.”

Dia memiliki perasaan bersalah yang sama ketika melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan Afrika. “Saya semakin mendapatkan sensasi bahwa ada hubungan antara kekayaan kami dan kemiskinan mereka,” katanya. Tiba-tiba dia menyadari, “Jika saya tidak melakukan ini sekarang, saya tidak pernah melakukan hal ini dalam sisa hidup saya.”

Maka, Rabeder memutuskan untuk mengundi rumahnya di Alpine. Ia menjual sebanyak 21.999 tiket lotere, masing-masing hanya seharga 87 poundsterling. Rumah di Provence di Desa Cruis dijual oleh agen properti lokal. Semua uang akan disalurkan untuk usaha kredit mikro yang menawarkan pinjaman skala kecil kepada warga Amerika Latin dan membangun bantuan strategis untuk pemberdayaan diri orang-orang di El Salvador, Honduras, Bolivia, Peru, Argentina, dan Cile.

Sejak menjual hartanya, Rabeder mengatakan bahwa dirinya merasa bebas, tidak lagi merasa terbebani. Namun, dia mengatakan, ia tidak akan menghakimi orang kaya yang memilih untuk terus menumpuk kekayaan. “Saya tidak punya hak untuk memberikan nasihat bagi orang lain. Saya hanya mendengar suara hati saya.”

2. Mahmoud Ahmadinejad – Presiden Tanpa Gaji

ahmadinejad1
Presiden Iran,Mahmoud Ahmadinejad
Kalau dilihat hasil wawancara terhadap diri Beliau, kita bisa tahu betapa mulianya hatinya..
berikut beberapa percakapan ketika diwawancarai oleh TV FOX (AS) mengenai kehhidupan pribadinya..

wartawan : Saat Anda melihat cermin di setiap pagi, apa yang Anda katakan pada diri Anda?

presiden : Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya : “ingat, kau tak lebih dari pelayan, hari di depan mu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran.” Presiden Iran ketika diwawancarai.

a. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Iran, Mahmoud Ahmadinejad menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada mesjid-mesjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
b. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.
c. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.
d. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri-menterinya untuk datang kepadanya dan menteri-menteri tersebut akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri-menterinya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri-menteri tersebut berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.
e. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.
f. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.
g. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
h. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yang selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
i. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang  dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.
j. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sudah dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.
k. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yang tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.
l. Sepanjang sholat, semua dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka. Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa.

3. Bai Fang Li – Tukang Becak Dermawan

bai3
Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya. Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk beribadah. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringatbercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana  ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak. Gubuk itu hanya  merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu  juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel dan ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang.Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.
Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Ceritanya dimulai saat hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan menggendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu. Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga. Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya” jawab anak itu. “Orang tuamu di mana?” tanya Bai Fang Li. “Saya tidak tahu, ayah ibu saya pemulung. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil” sahut anak itu. Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu yang tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak. Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah cuaca dingin atau dalam panas matahari yang sangat menyengat tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang pentingg biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, kurang lebih setara 455 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin. Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

4. Irwin Corey – Jutawan yang Selama 17 tahun menjadi Pengemis
Tiga tahun lagi, usianya genap 100 tahun. Dengan tubuh renta, dan mata yang tak lagi awas melihat, setiap hari pria itu berjalan pincang, membawa keranjang dorong, menghampiri mobil-mobil yang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Kepada para pengemudi, ia meminta recehan dan menawarkan koran gratis sebagai balasannya. Orang yang tak tahu pastilah menganggapnya sekedar pengemis. Namun siapa sangka kakek renta itu pernah dikenal sebagai ‘orang terkemuka di dunia’.

corey
Dia adalah Irwin Corey, komedian, aktor, juga aktivis politik sayap kiri. Setiap hari, tujuh hari dalam seminggu, ia menyusuri Jalan East 35th, Manhattan. Sudah 17 tahun ia melakukan kegiatan itu. Tentu saja, Corey, yang sekian lama malang melintang berkarir di Broadway, televisi, teater, dan klub komedi, tak membutuhkan uang, apalagi recehan yang ia kumpulkan.

Bahkan, ia sama sekali bukan tunawisma, seperti penampilannya yang berantakan dan kumuh. Ia punya apartemen di kawasan elit New York yang nilainya diperkirakan US$3,5 juta atau sekitar Rp31 miliar.

Lalu apa alasannya menyamar jadi gembel dan mengemis di jalanan? Jawab Corey: untuk membunuh rasa kesepian akibat ditinggal istri yang mendampinginya selama 70 tahun, Fran. Juga untuk menolong sesama. Pria 97 tahun itu juga tak pernah mengantongi uang yang ia kumpulkan — yang sehari bisa mencapai US$250 atau sekitar Rp2,2 juta. Uang itu dia sumbangkan untuk bantuan medis pada anak-anak di Kuba. Ia bahkan pernah mengunjungi Kuba membawa bantuan. Fotonya bersama dengan Fidel Castro ia pajang di dinding apartemennya yang mewah.

Corey mengaku, belum sepenuhnya meninggalkan karirnya di dunia hiburan yang ia jalani selama delapan dekade. Ia masih tampil reguler, minggu lalu ia tampil sebuah klub lokal di Chicago. Di dunia hiburan, Corey mendapat julukan ‘Profesor’ sejak 1940-an dengan tampilannya yang khas: jas berekor, dasi tali, sepatu tinggi, dan rambut berdiri mirip orang-orangan sawah.
Ia bersikap sopan pada orang-orang yang memberinya koin di jalanan. Juga menyapa dengan sapaan lucu, “see you later, alligator”. Dalam wawancara dengan New York Times, ia tak menjelaskan secara rinci posisi keuangannya. Namun, agen yang menanganinya lebih dari 50 tahun,

Irvin Arthur (85) mengatakan, Corey tak butuh uang, sampai-sampai harus mengemis di jalanan. “Ini bukan soal uang, untuk Irwin, jalanan adalah panggung pertunjukkannya.”

5. Wu Juping – Menyelamatkan Balita
Seorang balita berusia dua tahun di Hangzhou propinsi Zhejiang China terjatuh dari lantai sepuluh sebuah gedung bertingkat, Senin ( 4/07 ). Beruntung seorang perempuan berhasil menangkap balita tersebut. Perempuan bernama Wu Juping hanya memar tangannya setelah menangkap si balita. Ia pun dijuluki sebagai pahlawan oleh televisi nasional China, yang menampilkan gambar Wu sedang di rumah sakit. Rupanya, Wu mengalami patah tulang karena menangkap si bayi jatuh yang disebut ‘Niu Niu’ oleh media Jepang.

Peristiwa itu terjadi ketika ibu muda Wu yang memiliki bayi berusia tujuh bulan, melihat anak kecil tergantung di jendela sebuah apartemen. Berpikir cepat, ia melemparkan sepatu hak tinggi yang ia kenakan, berlari ke arah apartemen itu. Bersamaan itu tubuh mungil balita melayang ke tanah. Niu Niu si balita malang itu mendarat di tangan Wu dan terlempar ke rumput. Begitu kerasnya benturan itu membuat Wu langsung pingsan karena kekuatan hantaman tubuh bayi yang ia selamatkan.

Niu Niu juga mengalami luka parah dengan pendarahan dalam yang membuat kondisinya masih kritis. Saat kejadian, Niu Niu ditinggal sendirian oleh ibunya di lantai 10 apartemen yang mereka huni. Direktur rumah sakit di Kota Fuyang tempat Wu dirawat, Jin Dengfeng, memberinya perawatan gratis setelah tahu tindakan perempuan itu. Wu menuturkan dirinya baik-baik saja setelah menerima support masyarakat atas tindakannya menyelamatkan balita itu.

wu-dan-balita-malang-di-rumah-sakit
Wu Juping ( 31 ) tengah mendapat perawatan ditunggui anak balitanya. Tangannya patah setelah menangkap si balita Niu yang terjatuh dari lantai 10 sebuah aparteman di kota Fuyang.
Tim dokter yang merawat Wu mengatakan ia perlu perawatan antara empat hingga tujuh jam
untuk mengetahui apakah ada komplikasi memar di tangan Wu. Wakil Presiden Direktur Rumah Sakit Fuyang TMC Orthopedic, Jin Dengfeng menyatakan setelah pemeriksaan, tim dokter akan melakukan reposisi tulang tangan Wu yang bergeser akibat benturan.

Jin mengungkapkan benturan yang dialami Wu apabila menimpa bagian kepala atau leher dapat mengakibatkan kematian. Sementara itu suami Wu, Chen Jianguo bangga dengan keberanian istrinya menangkap balita malang itu yang terjatuh dari lantai sepuluh. Sedangkan Wu, mengaku tak menyesal telah menyelamatkan nyawa Niu Niu meski ia sementara ini terpaksa berhenti memberikan ASI kepada bayinya sendiri. “Saya berharap Niu Niu segera sembuh,” ujarnya lirih.

6. Chen Xianmei – Membantu Korban Tabrak Lari

Little-Girl-Run-Over-YueYue
Yue Yue, bayi yang ditabrak dua kali oleh pengendara mobil di China dan dibiarkan begitu saja masih dirawat di rumah sakit. Seorang pemulung yang menjadi penolongnya disaat orang lain tak memperdulikan nasibnya, justru dituduh mencari sensasi.

Anggapan bahwa moralitas warga di China sudah menurun, sepertinya memang benar adanya. Chian Xianmei, seorang pemulung yang membantu Yue Yuedisaat meregang nyawa usai dilindas dua kali oleh mobil justru dianggap mencari ketenaran.

Sebelumnya, bocah perempuan berusia dua tahun itu dilindas oleh mobil yang melintas. Selama dirinya terkapar, tidak ada seorang pun yang mau membantunya kecuali Chen Xianmei.

Pemulung berusia 58 tahun itu, terekam dalam video keamanan yang memperlihatkan dirinya memberikan pertolongan kepada bocah malang tersebut. Usai berita mengenai kecelakaan yang dialami Yue Yue merebak, nama Chen Xianmei pun mendadak terkenal karena dirinya rela memberikan bantuan tanpa pamrih.

Tetapi niat baik Chen Xianmei ini justru dianggap seperti sebuah kebaikan yang palsu oleh beberapa orang. Beberapa warga mempertanyakan, apakah dirinya membantu bocah tersebut hanya karena ingin terkenal. Tuduhan ini tentu melukai hatinya dan keluarganya. Chen sendiri mengaku hanya ingin membantu karena hal tersebut hanyalah bentuk respons alami seorang ibu. Demikian diberitakan Shanghai Daily, Kamis (20/10/2011).

Apa yang dialami oleh Yue Yue memang mencengangkan masyarakat China. Mereka yang melihat video kecelakaan tersebut menilai ada kemerosotan moral yang terjadi di sekitar mereka saat ini. Setelah terlindas dua kali, 18 orang yang melintas di sekitar lokasi kejadian justru tidak memberikan bantuan sama sekali. Jika, bukan karena Chen, Yue Yue bisa saja kehilangan nyawanya saat ini.

Kini kondisi Yue Yue dilaporkan sudah bisa bernapas dengan alat bantu pernapasan. Sedangkan denyut nadinya saat ini dikabarkan stabil.

Polisi sendiri saat ini sudah memproses supir yang menabrak Yue Yue. Polisi pertama kali menangkap supir yang bernama Jiang. Sementara pelaku pertama yang menabrak Yue Yue, yang diketahui bernama Hu menyerahkan dirinya kepada polisi.

Hu mengaku bahwa dirinya menyadari melindas sesuatu, tetapi dirinya tidak mengetahui apa yang ditabraknya itu adalah anak kecil. Kondisi hujan yang terjadi saat itu juga menjadi alasan bagi Hu.

Dirinya tidak melihat jalanan dengan jelas dan tidak dapat mendengar teriakan Yue Yue. Ia barusadar telah menabrak seorang anak kecil tersebut setelah menonton berita di televisi.

Tambahan : Setau gue Yue-yue meninggal nggak lama setelah kondisinya stabil.

7. Bill Gates – Sumbang 8 Triliun untuk Warga Miskin
Kekayaan: $124 Milyar

bill-gates-energy
Sangat banyak yang tau dengan sosok orang terkaya di dunia yang satu ini, dia adalah Bill Gates. Si Raja Software pendiri perusahaan Microsoft yang disebut-sebut adalah seorang hacker jenius yang dapat menggabungkan keahlian di bidang pemrograman serta keahlian di bidang bisnis. Banyak yang mengatakan bahwa Bill Gates memperoleh harta kekayaan melalui jalur yang tidak legal, namun terlepas dari itu semua, dia adalah sosok yang sangat dikagumi selain Warren Buffet. Bill Gates adalah pendiri Yayasan Bill and Melinda Foundation dan berjanji akan menyumbangkan 90% harta kekayaan untuk kegiatan amal.

Sumber : http://dinidudul.blogspot.com/2012/02/7-manusia-berhati-mulia.html

logo BW

One thought on “7 Manusia Berhati Mulia versi On The Spot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s