Ilusi

“Kerjaanmu tidur, makan, tidur, dasar pemalas!” Aku masih ingat gerutuanmu tiap kali aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Aku hanya akan menyengir kecil atau kadang membalas sindiranmu dengan menghina betapa kurusnya tubuhmu itu.

Lalu kita akan terdiam sesaat. Aku tahu banyak hal yang tidak kamu ceritakan, bahkan padaku, sesama pasien di “rumah sakit jiwa” ini. Kadang aku tahu, kamu ingin sekali lepas. Pergi. Menjauh dari semua hal monoton ini. Kita itu sama, elang yang terkurung di sangkar emas.

Kamu sering bilang diammu itu agar semua baik-baik saja.
Haaaah.
Dasar tidak waras!
Aku kan sudah bilang, kita terlalu lama berpura-pura waras.
Kamu dan aku itu sama.
Sama-sama “sakit”.
Tapi kita beda.

Entahlah, aku pun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya padamu. Tapi yang jelas, aku masih ada di sini menemani lamunan kosongmu. Atau sekadar saling bermain catur dengan bidak kosong. Ilusi, kata orang. Tapi bukankah semua yang ada ini nggak nyata?

“Yang jelas jangan pergi dulu. Rajamu belum skakmat,” aku menjalankan satu bidak di ujung kiri papan ini.

“Memangnya kenapa kalau belum skakmat?” Kamu akan memandangku dengan tajam. “Memangnya aku harus menunggu skakmat untuk berhenti? Kalau aku sudah tahu apa akhirnya, untuk apa aku menghabiskan waktu menunggu ending-nya?”

Kalau sudah begitu aku akan mengunyah permen karet dan menunggu kamu melanjutkan ceritamu.

“Tidak ada yang benar-benar tahu rasanya menjadi aku. Rasanya hidup hanya untuk membahagiakan orang lain. Hah, dielu-elukan hanya sesaat. Kadang, aku merasa perjalananku terlalu jauh. Tidakkah kamu merasa langit biru itu lebih menenangkan kalau kita bisa menyatu dengan mereka, daripada hanya mendongakkan kepala menatapnya?”

Kamu berhenti lama, menantiku untuk berbicara. Aku mengangkat bahu, menjalankan satu lagi bidak catur ilusi kita itu. “Nah, sekarang kita sama. Sisa raja.”

Kamu terkekeh kecil, yang perlahan menjadi tawa penuh kesakitan. “Memang hidup itu suka bercanda,” kamu menyulut rokok di tanganmu. “Adakah cara mati yang tidak menyakitkan?”

Aku menggeleng. “Lupakan cara untuk mati. Alasanmu untuk hidup jauh lebih banyak.”

Tawa pahitmu kembali terdengar.
Lalu hening.
Yang tersisa hanya bunyi derap bidak catur kita.

By : Liliana Lim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s